RSS Feed
logo
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

PEMBICARA - PENULIS - PERENCANA KEUANGAN
Artikel Terbaru
Arsip
21 step's to be real entrepreneur

New Release Book

DARI PRAKTISI P3K
image

Hari 'Soul' Putra

Financial Motivator


Penemu The Supreme Learning Program
Statistik Pengunjung

image

 

 

 

 

 

FB Motivasi Keuangan

 

WealthFlow 19 & Business Advisory
Mau Nambah Passive Income
Bimbel Bisnis Online
Media Strategic Partner
Radio Internet

Antara Mimpi, Gengsi, dan Investasi di Era Milenial

image

Hidup itu murah, sedangkan yang mahal itu Gayahhhhh....

Sengaja saya tambahin hhhh nya banyak, karena faktanya, semakin tinggi pendapatan seseorang berkorelasi positif dengan gaya hidupnya.

Alasan anak zaman NOW, gak mau mati gaya.

Makan bisa di tahan, tapi pulsa harus tetap jalan.

Mobil boleh gerobak sodor, tapi di instagram kudu kesohor.

 

Hedonic Treadmill

Hedonisme menurut KBBI daring adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Jadi Hedon adalah sikap seseorang yang menjadikan kenikmatan materi adalah segala-galanya.

Sedangkan treadmill adalah semacam alat jentera/roda yang dijalankan dengan menginjak-injaknya atau pekerjaan yang membosankan.

Jadi, istilah Hedonic treadmill merujuk pada fakta, "Meski penghasilan kita terus meningkat, semua akan tetap habis. Kenapa? Karena harapan dan nafsu kita untuk terus memiliki kemewahan materi tidak akan pernah terpuaskan."

Hari ini punya motor, besok ingin mobil, lalu helikopter, besok ingin pesawat dan seterusnya.

Sekiranya langit tidak ada batasnya, maka keinginan itu akan terus menembus langit.

Di sisi lain, ada juga istilah yang cukup populer walau di bingkai dalam sebuah kuadran, RAT RACE.

Rat race atau Rat Race Cycle atau Siklus Rat Race adalah kemampuan kita mengelola keuangan, Khususnya Pribadi dan Keluarga berdasarkan pola hamster.

Seperti namanya, Rat Race Cycle, memang didasari dari kesukaan tikus/hamster berlarian di atas roda di dalam kandang.

Jika kita perhatikan, hamster tersebut yang gemar berlari-lari, di atas roda yang terus berputar tanpa henti.

Terus dilakukan seolah-olah tanpa tujuan hendak ke mana.

Terus saja melakukan hal yang sama tanpa hasil dan target yang besar.

Seperti itulah analogi bila pengelolaan keuangan yang kita lakukan sudah terjebak dalam pola 'Rat Race Cycle'.

Kita hanya akan melakukan hal yang sama secara berulang-ulang (dalam Bahasa Trainingnya disebut servo mechanism) tanpa ada hasil besar dan menguntungkan, juga tak akan pernah sampai ke mana-mana.

Kalaupun sepertinya kemana-mana, sejatinya kita hanya jalan di tempat.

Sejumlah orang meski sudah memiliki level penghasilan yang memadai, namun aset kekayaannya tetap zero.

Kenapa?

Sebab semua gaji atau pendapatannya habis demi membiayai gaya hidupnya yang mahal.

Di manapun Kuadran Anda hari ini, hedonic treadmill bukan hanya di Kuadran Employee dan Self Employee tetapi seorang Businessman atau Business Owner dan Investor pun, beberapa juga kena sindrom ini, hedonic treadmill.

Pengusaha Besar pun, akan terkena hedonic treadmill ketika mereka menjadi Budak Utang alias Bad Debt.

Jika di kuadran Employee, penghasilannya selalu habis demi membiayai ekspektasi gaya hidupnya yang terus meningkat, sementara di kuadran Business Owner tidak menemukan kedamaian karena "UTANG JELEK'nya.

Kita lihat Fenomena Kerajaaan Bisnis Generasi Pertama bisa habis oleh Generasi Ketiganya.

Sergapan hedonisme dan gaya hidup itulah yang acap membuat orang mengalami kegagalan finansial, meski penghasilannya terus tumbuh.

Maka dari itu, persoalan Kebutuhan dan Keinginan dalam Motivasi Keuangan selalu mendapatkan porsi yang besar.

Bagaimana tidak, tanpa di iringi Kedewasaan Keuangan, maka Keinginan yang tidak terkendali sejatinya mempercepat Kiamat Keuangan di pribadi dan keluarga kita.

Untuk itu, berikut ada 3  Mindset agar kita tidak terjebak dalam rat race cycle dan hedonic treadmill.

 

1. Punyai Mimpi

Mimpi secara harfiah adalah angan-angan.

Sebuah harapan yang perlu diperjuangkan.

Tapi tidak sedikit juga, yang bermimpi sajapun tidak berani.

Entah karena pernah trauma ala Resolusi Keuangan tiap tahun, ataukah ibarat punguk merindukan bulan.

Bulan yang tinggi di angkasa, tidak akan pernah di capai oleh punguk, kecuali punguk ikut Ekspedisi ala Neil Amstrong di Apollo 11.

Artinya punya mimpi khususnya Mimpi Keuangan, bukanlah sebuah hal yang istimewa, mengingat matahari yang menerangi kita saat ini, adalah matahari yang juga menerangi orang-orang hebat dari zaman ke zaman.

Tinggal bagaimana kita membuat mimpi itu secara terukur lewat SMART Method (Specific/spesifik atau khusus, Measurable/dapat diukur, Attainable/yang dapat dicapai, Realistic/realistis, dan Time able/ada batas Waktu).

Misalnya ketika menabung menjadi cara yang umum kita lakukan, maka harus jelas digunakan buat apa tabungan tersebut, misalnya buat Jalan-jalan, kemana, kapan akan terealisasi dan seterusnya hingga membuat langkah-langkah aksi yang terukur.

 

2. Kendalikan Gengsi

Gengsi adalah harga diri, sebuah keinginan yang sejatinya wajib kita jalankan dalam kehidupan. Tanpa keinginan, hidup serasa hampa.

Tapi keinginan yang tidak terkendali, akan membahayakan keuangan pribadi dan keluarga kita juga.

Saya sering menyatakan bahwasanya makan itu adalah kebutuhan, sementara makan-makan itu adalah keinginan.

Apakah kita tidak boleh makan-makan?

Boleh dan syah-syah saja, tetapi jika tiap hari kita makan-makan, maka paceklik keuangan akan kita hadapi.

Kapan makan-makan boleh kita laksanakan?

Misalnya sudah ada anggaran buat makan-makan di sebuah restoran, atau kita juga pemilik restoran tersebut dan seterusnya.

Begitu juga dengan HP baru misalnya, jika tiap 3 bulan kita ganti HP, itu adalah keinginan, tetapi ketika HP lama kita sudah tidak bisa menjalankan fungsinya, misal keterbatasan memori dan itu buat memperlancar pekerjaan kita maka keinginan itu wajib kita tunaikan.

Intinya keinginan yang menghasilkan, bukan konsumerisme dalam balutan sosial.

Kenapa?

Karena masih ada masa depan yang harus kita jalani, bukan sekedar hidup buat hari ini saja.

 

3. Terapkan Investasi

Investasi secara esensi adalah bertumbuh buat masa depan, apakah nantinya menghasilkan cash flow gain ataupun capital gain, kitalah yang harus memilah-milahnya.

Sebelum kita masuk ke instrumen investasi, investasi yang terus menghasilkan dan melekat ke diri kita adalah investasi buat Leher ke atas, yakni  Knowledge, Skill & Experience.

Walau banjir pengetahuan bisa kita dapatkan dari Google University maupun Institute of You Tube, tetapi tahu memetakan pengetahuan dan bisa mendapatkan hasil yang positif dari banjir informasi tersebut adalah hal lain.

Misalnya, pengetahuan dan tips cara kaya bisa kita dapatkan dari hal di atas, tetapi melaksanakan atau menjadi kaya, toh tidak semua orang bisa dalam prakteknya.

Sehingga mengasa gergaji Pengetahuan, Keterampilan dan Pengalaman adalah sebuah investasi yang patut kita sisihkan di awal ketika mendapatkan gaji atau pendapatan, bukan di sisakan.

Di luar dari itu semua, meningkatkan FI (Financial Intelligent) layaknya kita lagi balapan FI (Formula 1) di tikungan kehidupan keuangan kita akan memberi rasa keberlimpahan karena kita menyadari story behind the number (cerita di balik angka).

Kita akan paham mana yang namanya kelihatan kaya dan kaya beneran, beda antara aset dan liabilitis, beda utang baik dan utang buruk dan seterusnya termasuk harus kemana kita investasikan uang kita, di instrumen apa saja agar uang itu terus berkembang ketika kita lagi asyik mengembangkan diri dan pribadi kita secara terus menerus.

Akhir kata, antara Mimpi, Gengsi dan Investasi di era milenial ini perlu kita tata ulang agar di tahun-tahun berikutnya kita akan menuai apa yang kita tanam hari ini.

 

Wallahu'alam bisshowab....


Hari 'Soul' Putra    
Managing Director WealthFlow 19 

Technology 
www.P3KCheckUp.com      
Founder IBC/Indonesian Business 

Community   
Motivator Keuangan

Tue, 28 Jan 2020 @06:45

Copyright © 2020 - 2009 SMCorp. · All Rights Reserved